Arsip Piksi-L

Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya

Indeks - Tanggal   Indeks - Ulir Diskusi

[PIKSI-L] lihatlah lebih dekat

From "Heru Sunandar" <heru @ somewhere.in.the.world>
Date Fri, 6 Apr 2001 09:08:54 +0700

From: "Hilal Achmad" <hill @ somewhere.in.the.world>
To: <pk-timur @ somewhere.in.the.world>; "'Timur'" <pk-timur @ somewhere.in.the.world>
Sent: Friday, April 06, 2001 9:44 AM
Subject: [musholla] lihatlah lebih dekat

> Lihatlah lebih dekat. Dengan sepenuh bola mata. Harga kebutuhan pokok
terus
> merangkak naik. Bahkan ada yang sampai 50%. Hidup nyata nyata memang
sulit.
> Seorang istri sopir angkot di Kebayoran mengeluh, harga kangkung pun
> sekarang mahal. Tetapi pameran dan penjualan mobil mewah tetap meriah.
> Malah, satu mobil Ferrari seharga 5 miliar baru saja dipasarkan di
> Indonesia. Importirnya tersenyum optimis. Para pengamat ramani menyebut
> adanya ancaman krisi ekonomi babak kedua. Tetapi krsisi hanyalah potongan
> nasib orang kecil belaka. Sedang para koruptor, tetap dapat melenggang,
> menghamburkan uang atau mencuci uang. Kita memang satu bangsa, satu
bahasa,
> tapi tidak satu rasa
>
> Lihatlah lebih dekat. Dengan setulus hati. Untuk sekedar berdiskusi dengan
> tema yang sangat general, para kepala negara harus diimporkan mobil mewah.
> Lain lagi kisah Soeharto. Dibutuhkan dana sampai 100 juta setiap bulannya
> untuk mengusahakan agar ia masih tetap bernafas. Warasnya menyengsarakan,
> mau matipun bikin susah banyak orang. Temannya, LB Moerdani juga sedang
> sakit, Keberadaan 'tuan tuan besar' di dunia ini selalu berbiaya mahal,
> meski tak sedikit dari mereka yang lahir hanya untuk menjadi sampah
sejarah.
>
> 'Orang besar' seperti Bob Hasan juga telah mengubah suasana Nusa
Kambangan.
> Untuknya disediakan ruang lapang yang sebelumnya biasa dipakai kebaktian.
> Dinding dindingnya dicat baru. Ada ranjang berbusa tipis, juga dengan
> kerangka yang dicat baru.
>
> Lihatlah lebih dekat. Betapa untuk menumpuk dosa pun orang mau berkorban
> harta dan bertumbal nyawa. Seperti kisah anak anak ingusan yang rela
> terkapar dalam histeria konser konser musik yang tak masuk akal. Bahkan
> beberapa mereka akhirnya tewas mengenaskan. Mungkin orang tuak mereka tak
> pernah sempat mengajari bagaimana seharusnya mereka memilih kematian.
>
> Lihatlah lebih dekat. Dengan seluruh jiwa dan getaran batin. Negara akan
> mengejar devisit anggarannya dengan menggenjot perolehan pajak. Mungkin
pula
> itu yang mendasari ide usil memajaki susu dan sabun. Padahal banyak
'upeti'
> rakyat yang tak berbalik apa apa bagi mereka. Untuk sekedar merasa nyaman
> berjalan di pagi hari saja sulit. Apalagi pulang menjelang petang.
Kemanakah
> mencari rasa aman , bila di Jakarta saja ada 78 tempat rawan yang dikuasai
> preman ? Bagaimana bisa ada rasa tenang, bila seorang Camat di bilangan
> Jakarta Selatan, dikabarkan melindungi preman pasar dengan imbalan setoran
> 25 juta setiap bulan ?
>
> Lihatlah lebih dekat, Mengapakah untuk sekedar menuntuk perbaikan upah,
> seorang buruh di kawasan Pulo Gadung, minggu lalu, harus tewas dikeroyok
> massa 'bayaran' dengan menggunakan bom ? Sementara tiga anggota DPRD
> Jakarta, diduga kuat menilap uang dinas perjalanan. Seperti ulah
Konsorsium
> Sea Games XIX 1997 yang diketuai Bambang Trihatmojo. Dengan enak dan
leluasa
> meraup 650 milyar dari keringan dan darah rakyat tanpa pertanggungjawaban,
> hingga detik ini. Kaum kapitalis kebanyakan memang tak punya empati.
Mungkin
> juga telah mati nurani. Kalau bisa dunia dan seisinya ia makan sekali
telan.
> Harusnya mereka sadar,--seperti pesan Rasulullah-- lantaran orang orang
> kecillah mereka diberi limpahan karunia.
>
> Mereka seperti ribuan lalat yang menyerang ratusan karibu--sejenis kambing
> gunung-- di kutub utara. Karibu-karibu itu harus menjadi pengungsi di
negeri
> sendiri, melawan gelombang serangan koloni lalat yang jahat dan
menjijikkan.
> Mereka seperti telah melukis abstraksi ironis, tentang sebuah negeri
bernama
> Indonesia
>
> Khothorot-Tarbawi : edisi 19 tahun 2 : Muharram 1422 H







----------
Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi,
ITB, Indonesia.

Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap
pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali*
tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal.

Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world
Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world
Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l
 

Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ 


 

Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:41:53 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10